
Kota sering dibayangkan sebagai sesuatu yang utuh. Dalam gambaran banyak orang, ia adalah ruang yang penuh kemungkinan, tempat orang datang untuk bergerak lebih cepat, menemukan peluang yang lebih luas, dan membangun kehidupan yang terasa lebih maju berbanding tempat lain. Gedung-gedung tinggi, jalanan yang tak pernah benar-benar sepi, dan ritma hidup yang tergesa-gesa sering menjadi simbol dari bayangan itu.
Namun, kota jarang sesederhana yang kita bayangkan. Di sebalik pusat dan kemajuan, kota sebenarnya adalah tempat bertemunya pelbagai kehidupan. Orang datang dari pelbagai daerah, membawa bahasa, kebiasaan, dan cara pandang sendiri. Dari pertemuan itulah kota perlahan terbentuk, bukan sebagai identiti yang tunggal, melainkan sebagai ruang yang terus berubah.
Jakarta, sebagai ibu kota, mungkin adalah salah satu contoh kota di dunia yang paling jelas terwujud dari pertemuan itu. Ia sering disebut sebagai pusat dari pelbagai segi; pusat pemerintahan, pusat ekonomi, bahkan pusat perhatian. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, Jakarta sudah menyimpang daripada pusat yang benar-benar memiliki satu wajah yang jelas. Ketika berbicara tentang Jakarta, banyak orang langsung membayangkan budaya Betawi sebagai wajah utamanya. Anggapan itu tentu tidak sepenuhnya keliru, kerana Betawi memang penduduk asli kota ini. Namun hakikatnya, orang yang lahir dan besar di Jakarta tidak selalu berasal dari keluarga Betawi.
Ramai yang tumbuh dengan bahasa yang berbeza-beza; bahasa Jawa, Sunda, Minang, atau bahasa daerah lainnya. Di rumah, mungkin mereka berbicara dalam bahasa keluarga. Di luar rumah, mereka menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur dengan ritma percakapan kota. Dari pertemuan pelbagai latar belakang itulah sebuah cara bicara perlahan terbentuk. Dialek yang kemudian dikenali sebagai loghat Jakarta ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang tunggal. Ia adalah hasil pertemuan banyak bahasa yang saling bersenggolan. Kadang-kadang terdengar cepat, kadang-kadang mendatar, kadang-kadang ada lengkungan kecil di akhir kata. Ia tidak pernah benar-benar seragam—kerana Jakarta itu sendiri tidak pernah benar-benar seragam.
Aku lahir dan membesar di Jakarta, meski bukan di pusat kota dengan gedung-gedung tinggi sebagai pemandangan sehari-hari. Lingkungan tempatku tumbuh lebih menyerupai kampung yang padat dan akrab, di mana tetangga saling mengenal dan anak-anak bermain di jalan setiap petang. Cara bicaraku terbentuk dari percakapan sehari-hari di tempat itu, dari keluargaku, dari teman sekolah, dari orang-orang di sekelilingku. Namun, setiap kali aku keluar dari kota, ada satu hal kecil yang sering muncul dalam percakapan, iaitu loghatku.
Ada beberapa orang pernah mengatakan bahawa cara bicaraku berbunyi “Jakarta sekali.” Ada yang mengatakannya dengan nada bercanda, ada pula yang menirunya seolah-olah loghat itu adalah sesuatu yang dibuat-buat. Kadangkala komentar itu muncul dari hal yang sangat sederhana, seperti caraku mengucapkan kata “halo” ketika menjawab telefon. Nada yang sedikit naik di awal kata, lalu melengkung tipis di akhir, dianggap sebagai sesuatu yang—entah kenapa—khas kota.
Aku tidak pernah merasa sedang membuatnya terdengar seperti itu. Cara bicara itu muncul dengan sendirinya, sama alaminya seperti orang lain berbicara dengan loghat daerah tempat mereka tumbuh. Dari situ pertanyaan kecil mulai muncul dalam fikiranku: mengapa dialek Jakarta sering dianggap sebagai gaya yang disengajakan, sementara loghat daerah hampir selalu diterima sebagai sesuatu yang alami? Apabila seseorang berbicara dengan loghat Jawa, Sunda, atau Minang, orang biasanya menyebutnya sebagai sebahagian daripada kekayaan budaya. Loghat itu dianggap sebagai penanda asal-usul yang patut dihargai. Namun, apabila loghat Jakarta dituturkan, ia sering diperlakukan dengan cara yang berbeza, lebih mudah ditertawakan, seolah-olah ada unsur persembahan.
Padahal bagi ramai orang yang tumbuh di Jakarta, cara bicara itu hanyalah bahasa sehari-hari. Ia bukan gaya yang dipelajari untuk terdengar lebih moden atau lebih gaul. Ia hanyalah bentuk bahasa Indonesia yang hidup di ruang percakapan kota, bahasa yang digunakan oleh orang-orang dari latar belakang berbeza yang mencuba menemukan ritma komunikasi yang sama. Mungkin ada beberapa alasan mengapa loghat ini sering menjadi bahan lelucon. Boleh jadi kerana loghat tertentu seperti lebih mudah ditirukan. Boleh jadi juga kerana Jakarta terlalu lama diangkat sebagai pusat, sehingga apa pun yang datang darinya terasa sah untuk dijadikan simbol.
Selama ini, ibu kota sering dipandang sebagai tempat datangnya pengetahuan, trend, dan perkembangan terbaru. Orang kota dianggap lebih dekat dengan maklumat, sementara orang daerah atau kampung sering diletakkan sebagai pinggiran yang mengikuti dari kejauhan. Dalam bayangan seperti itu, menjadi “orang Jakarta” seolah-olah membawa sedikit aura keunggulan, meskipun tidak selalu benar-benar diminta oleh mereka yang lahir di dalamnya. Akan tetapi, dunia hari ini sudah bergerak cukup jauh dari gambaran itu. Capaian maklumat semakin merata. Internet menjadikan jarak geografi kehilangan sebahagian maknanya.
Dalam situasi ini, hubungan antara pusat dengan daerah perlahan-lahan berubah. Bahasa daerah yang dahulu sering dianggap kurang kelas kini dirayakan kembali dengan rasa bangga. Ramai orang sengaja mempertahankan loghat mereka sebagai penanda identiti yang berharga. Perubahan itu tentu merupakan sesuatu yang positif. Namun, kadang-kadang aku juga tertanya-tanya apakah pada saat yang sama bahasa Indonesia sehari-hari—yang justeru menjadi jambatan komunikasi antara daerah—mula dipandang dengan cara yang berbeza. Jika loghat daerah dirayakan sebagai identiti budaya, sementara loghat Jakarta sering diperlakukan sebagai gaya yang bisa ditertawakan, mungkin yang sedang kita lihat bukan sekadar persoalan dialek. Mungkin ini adalah sebahagian daripada cara masyarakat merunding kembali hubungan antara pusat dengan pinggiran.
Akhirnya, loghat hanyalah cara lidah kita menyimpan sejarah kecil tentang tempat kita tumbuh. Ia terbentuk daripada percakapan yang berulang setiap hari, daripada keluarga, teman, masyarakat yang tanpa kita sadari membentuk cara kita mengucapkan kata demi kata. Loghat tidak selalu mencerminkan siapa yang lebih tahu, siapa yang lebih moden, atau siapa yang lebih dekat dengan pusat. Ia hanya menandai dari mana sebuah suara berasal. Dan mungkin itulah yang sering kita lupakan ketika mentertawakan atau meniru cara bicara orang lain, bahawa setiap loghat membawa rumahnya sendiri. Rumah yang tidak selalu terlihat, tetapi tetap tinggal di dalam bahasa.
Jika kota memang adalah tempat pertemuan berbagai kehidupan, maka barangkali ia juga seharusnya menjadi tempat di mana berbagai suara dapat hidup berdampingan, tanpa perlu diringkaskan, tanpa perlu dijadikan lelucon, dan tanpa harus dipaksa menjadi satu warna sahaja.
Anggi Rosalia lahir dan besar di Jakarta. Ia mencintai buku dan sering menghabiskan waktunya di toko buku di Yogyakarta.





